Blue Spinning Frozen Snowflake
Sapphire Blue Spinning Frozen Snowflake
Sapphire
Blue Spinning Frozen Snowflake
Sapphire
Blue Spinning Frozen Snowflake
Sapphire
Blue Spinning Frozen Snowflake

Jumat, 21 Agustus 2015

UNKNOWN

     Briohny, gadis manis itu terus tersenyum mendengarkan lagu yang diputar di radio kesayangannya. Sesekali ia bibirnya bergerak melantunkan lagu yang ia dengar itu. Hingga alunan lagu berakhir, bergantikan suara cempreng sang penyiar radio, gadis itu masih terus menyimak apa yang sedari tadi ia dengar.

      "... lagu surat selanjutnya adalah dari cowok bernama Arroy, untuk mantan kekasihnya Andesta. Hei..., bukankah ini surat ke empat? Ah, baiklah, akan saya bacakan. Ehem..."

     "Untuk Andesta, mungkin kamu akan terganggu dengan suratku. Atau justru surat ini sama sekali tak tersampaikan padamu. Aku hanya ingin menyampaikan betapa aku menyesali semua yang terjadi diantara kita berdua. Aku tahu mungkin keegoisankulah yang membuatmu pergi. Maafkan aku. Hanya itu yang bisa aku katakan. Sebelum aku pergi, aku hanya ingin menyampaikan permintaan maafku secara langsung padamu. Jika kamu bersedia menemuiku, aku akan menunggumu di Cafe langganan kita dulu, hari minggu nanti."

     ".... dan sebagai penutup, aku ingin mempersembahkan lagu ini untukmu. Waiting For You dari Jeremy Kim," sang penyiar mengakhiri bacaan suratnya. "Untuk mbak Andesta, ada baiknya juga menemui mas Arroy. Saya tidak tahu apa masalah kalian sebelumnya, tapi sepertinya mas Arroy benar-benar tulus untuk meminta maaf...."

     Briohny mendesah. berat. Merasa prihatin pada sang pengirim surat.

     Namanya Arroy Priamadi, beberapa hari terakhir, pemuda itu terus mengirim surat ke radio kesayangan Briohny. Surat untuk mantan pacarnya semasa SMA. Entah apa masalah mereka, tapi sepertinya Arroy telah melakukan kesalahan fatal yang membuat gadis bernama Andesta itu meninggalkannya.

    Lagu Waiting For You itu masih terus mengalun lembut. Sementara Onhy masih terdiam mendengarkannya melalui earphone yang menempel di kupingnya.

     Cafe langganan mereka dulu? Dimana?

    Tiba-tiba gadis itu merasa penasaran dan ingin datang ke tempat itu hari minggu nanti. Hanya sekedar ingin tahu seperti apa pemuda bernama Arroy dan juga gadis yang begitu ia rindukan itu.

    Belaian lembut di kepalanya membuat gadis itu mendongak. Tersenyum lembut pada seseorang yang masih membelai puncak kepalanya itu. Perlahan gadis itu meraih tangan besar itu, turun dari kepalanya, dan menggenggamnya erat.

    "Mendengarkan cerita Arroy lagi?" tanya pemuda itu setelah melepas salah satu earphone di telinga adik perempuannya.

     "Hmm," jawab adiknya.

     "Apa sudah ada jawaban?"

     Ohny menggeleng. "Kasihan sekali. Ceweknya sama sekali tak menjawab. Apa kesalahan Arroy sangat tak termaafkan, ya kak?"

     Sang kakak tertawa kecil. "Mungkin," jawabnya yang membuat ekspresi adiknya berubah sendu. "Atau mungkin juga, mantan pacarnya bukan pendengar radio. Mungkin berbeda jika Arroy memposting suratnya di Facebook, Twiter atau yang lain."

     Briohny memiringkan kepalanya, mencoba memikirkan kemungkinan itu.

    Sang kakak mengacak rambut adiknya gemas. Menganggap sang adik terlalu jauh memikirkan kisah hidup orang lain yang sama sekali tak pernah mereka kenal.

     "Ah, hari minggu nanti, kakak mau main ke luar, mau ikut?"

     "Ke mana?"

     "Om Frey buka toko buku baru di samping Cafe mamanya Mika. Kakak mau cari buku gratisan. Hehehe..."

     "Kak Rui senengnya gratisan m'lulu," sungut Ohny. "Untuk apa aku ikut? Tidak ada buku yang bisa aku baca," lanjut gadis itu.

     Senyum di bibir Rui memudar. "Hei...., Ohny!"

     Si gadis tertawa. "Hanya bercanda! Ohny ikut, tapi traktir di Cafe kak Mika, ya!"

     "Apapun untuk adikku yang paling cantik!" ucap Rui sambil mencubit kedua pipi adiknya dengan gemas.

*****

     Dan di sinilah dia berada.

    Sambil menunggu kakaknya di toko sebelah, merampok banyak buku di stand baru adik lelaki dari ibu mereka, Briohny memilih untuk menghabiskan waktunya di cafe langganan mereka.

     "Cappuccino ice untuk pelanggan setiaku," suara si pemilik Cafe, Mika, mantan kekasih Rui yang masih menyukainya.

     "Terima kasih, kak," ucap Ohny sambil tersenyum.

     Mika mengangguk, lalu mengambil tempat di depan gadis yang empat tahun lebih muda darinya itu. Dan baru menyadari sedikit kesalahannya barusan.

     "Terima kasih kembali," ucapnya kemudian.

     "Kalau kak Mika sibuk, kakak bisa meninggalkanku," ucap Briohny sambil menyesap minumannya.

     "Tenang saja, masih terkendali, kok!" jawab Mika sambil mengedarkan pandangannya.

     Di luar gerimis mulai turun. Bahkan hawa dinginnya sudah terasa dari tadi. Mika heran, bagaimana Briohny masih tahan menikmati minuman dingin di cuaca seperti ini?

     Tatapannya terhenti pada seorang pemuda yang sejak beberapa jam yang lalu duduk di sudut ruangan. Meski terlihat tenang tapi Mika merasakan kegelisahan di raut wajah pemuda itu. Minuman hangat yang dipesannya tadi, dipastikan telah menjadi dingin. Apa pemuda itu menunggu seseorang?

      Suara pintu kaca yang terbuka, mengalihkan perhatian Mika dari pemuda tadi. Ada pengunjung datang.

     "Ohny, kak Mika tinggal sebentar, ya?" ucap Mika pada Briohny.

     Gadis itu tak menyahut. Mungkin tak mendengar ucapan Mika, karena alat di telinganya.

     Sementara langkah Mika yang hendak mendekati tamunya, terhenti saat orang itu melangkah mendekati pemuda yang sempat ia perhatikan. Mungkin itu teman yang ia tunggu. Tapi, tak terlihat ekspresi lega di wajah pemuda itu.

     Mika melanjutkan langkahnya mendekati meja di sudut ruangan itu. meninggalkan Ohny yang tengah khusuk mendengarkan lantunan lagu dari stasiun radio kesayangannya.

     "Surat selanjutnya dari...., wah, dari Andesta! Guys, bukankah Andesta adalah sosok yang Arroy tunggu? Akhirnya mbak Andesta muncul juga. Saya dan pendengar setia channel ini selalu menunggu balasan surat anda. Ehem..., oke, akan saya bacakan..."

     "Untuk, Arroy. Aku bukan seorang yang berhati malaikat. Jadi aku, tidak akan bersikap munafik, dan mengatakan bahwa aku sudah memaafkanmu, jauh sebelum kamu meminta maaf. Jujur saja, aku sempat membencimu karena tindakanmu di masa lalu. Meski alasanmu adalah karena tidak ingin membuatku sedih dan khawatir, tapi tetap saja itu salah. Itu bukan alasan. Tapi hanya keegoisan dan sifat pengecutmu saja. Jadi maafkan aku jika aku memilih untuk meninggalkanmu. Meski begitu, seiring berjalannya waktu, aku mencoba untuk memaafkanmu. Terlebih saat orang-orang yang telah kamu lukai, mengatakan bahwa kau telah menebus semuanya. Aku memaafkanmu. Tapi aku masih belum siap untuk bertemu denganmu. Maka dari itu, aku meminta seseorang untuk menemuimu mewakiliku. Perkenalkan, namanya, mas Arian. Dia suamiku. Kami menikah bulan lalu. Maaf karena tidak mengundangmu. Aku sungguh berharap, suatu saat, jika kita bertemu secara sengaja ataupun tidak, aku bisa menyapamu dengan senyuman, tanpa rasa sakit yang tersisa. Andesta Rahma."

     Ohny terpaku. Tak tahu harus bereaksi seperti apa.

     Andesta telah menikah. Dan meski dia memaafkan Arroy, tapi dia tak mau menemuinya. Sebenarnya apa kesalahan Arroy?

    "Hei, kamu melamun?" sebuah sentuhan lembut di bahunya, membuat Briohny tersentak. Gadis itu melepas salah satu earphonenya.

     "Emm?" tanyanya meminta pengulangan atas pertanyaan yang diajukan padanya.

     "Melamun?" ulang kakak lelakinya.

     "Tidak. Kak Rui sudah selesai?"

     "Hm.., tapi masih hujan. Kita pulang nanti, ya?" tawar Rui. Adiknya mengangguk, lalu kembali memasang earphonenya. Rui tersenyum melihatnya. Adiknya itu terlalu maniak radio akhir-akhir ini.

     Dokter muda itu mengedarkan pandangannya. Menatap pria 30 tahunan yang berdiri dari kursinya, dan berjalan menuju pintu keluar tanpa mampir di kasir. Mungkin hanya seseorang yang numpang berteduh. Atau temannya yang dia tinggalkan yang akan membayar bonnya? Pemikiran yang tidak penting.

      Mika membawa secangkir kopi vanila, dan meletakkannya di depan Rui, tanpa mengalihkan pandangannya pada pemuda yang duduk di pojok ruangan. Membuat Rui penasaran.

     "Kenapa? Apa ada yang mencurigakan?" tanyanya setengah bercanda.

     Mika menoleh sebentar. "Bukan. Hanya saja, orang itu sedikit aneh," ucapnya mengomentari pemuda yang tengah melamun itu.

     Rui kembali menoleh pada pemuda yang Mika maksudkan. Di matanya tak ada yang aneh kecuali wajah pucat pemuda itu. Dahi Rui berkerut. Sepertinya dia pernah bertemu dengannya di suatu tempat.

     Pemuda yang mereka perhatikan itu mulai beranjak. Berjalan pelan menuju tempat pembayaran. Setelah menyelesaikan urusannya, ia berbalik, berjalan melewati meja mereka, bermaksud untuk meninggalkan Cafe. Sementara Mika masih terus menatapnya. Melihat pemuda itu terhenti di depan pintu, dengan tangan yang telah siap menarik handle pintu. Terpaku dengan tatapan lurus ke depan. Pada sebuah mobil yang terparkir di seberang jalan, dengan jendela terbuka. Mika mengenalinya, orang di belakang kemudi mobil itu adalah 'teman' yang tadi menemuinya.

     Suara pintu yang ditarik, membuat Mika sadar, ia terlalu ingin tahu pada hal yang tidak perlu. Dan pemuda yang ia perhatikan tadi, telah bersiap untuk pergi. Tapi...

     "Rui...!" pekik Mika sambil menarik tangan Rui, lalu berlari menuju pintu tanpa peduli mantan pacarnya itu mengikuti langkahnya atau tidak.

     "Astaga!" pekik Rui yang ternyata mengikuti Mika.

     "Hei, kamu baik-baik saja? Hei...!" panggil Mika sambil menggoncang tubuh pemuda tadi yang tersungkur di depan pintu Cafe.

     Rui memeriksa denyut nadi pemuda asing itu. Dan berniat memanggil ambulance saat menyadari denyut nadinya sangat lemah, saat dua orang asing berlari ke arah mereka. Pria tadi, dan wanita yang bersamanya.

     "Arroy!" panggil si wanita dengan panik.

     Dahi Rui tertaut. Merasa familiar dengan nama itu. Tapi tak berniat berpikir lebih jauh lagi.

     "Maaf, anda mengenalnya? Bisa mengantar kami ke Rumah Sakit?" tanyanya kemudian.

     Wanita itu tak menjawab. terlalu sibuk dengan rasa paniknya. Sedangkan Pria yang bersamanya hanya menggangguk, dan segera berlari untuk mengambil mobilnya. Mengabaikan istrinya yang tak berhenti menangis.

     "Ka! Aku nitip Ohny, ya!" ucap Rui saat pria tadi kembali dengan mobilnya.

     Mika tak menyahut. Hanya mengangguk cepat, sambil meremas tangannya sendiri karena panik. Pertama kalinya ia melihat orang pingsan di depan matanya. Dan dia masih bertahan dengan kecemasannya, bahkan sampai Rui dan pria pemilik mobil tadi menggotong si pemuda masuk ke mobil, dan membawanya pergi.

     "Kenapa, mbak? Sakit apa?" tanya karyawannya yang entah sejak kapan berada di belakangnya.

     Mika menggeleng. Lalu tanpa mengucap sepatah kata, gadis itu masuk kembali ke Cafenya. Mendekati Ohny yang tak menyadari apa yang baru saja terjadi. Mika menepuk pundaknya pelan.

     "Rui ada urusan mendadak. Nanti kalau di belum kembali, aku yang akan mengantarmu pulang," ucapnya saat Ohny menoleh padanya.

     "Kemana?" tanya gadis itu.

     "Ada pengunjung yang pingsan. Rui mengantarnya ke rumah sakit."

     "Benarkah? Kasihan sekali. Baiklah, aku akan menunggunya."

     Mika tersenyum. Lalu meninggalkan Ohny saat seorang pelanggan memanggil. Sementara gadis yang ia tinggalkan kembali asyik dengan radionya. Tepat sebelum kejadian di luar cafe terjadi, Arroy mengirim email ke radio. Dan selesai lagu di putar, penyiar radio membacakan emailnya dengan suara yang terdengar ragu dan sendu. Mungkin karena pengaruh surat yang ia baca sebelumnya.

     "Aritmia. Adalah suatu tanda atau gejala dari gangguan detak jantung atau irama jantung. Terkadang aritmia menyebabkan detak jantung lebih cepat dari normal, atau juga lebih lambat dari normal. Aritmia bukan penyakit yang permanen. tapi beberapa jenis aritmia menyebabkan cardiac arrest, atau kematian tiba-tiba. Saat itu, aku mengalami serangan pertamaku, dan tanpa sengaja aku menabrak seorang anak kecil. Dan kecelakaan itu terjadi di hari pertunanganku dengan Andesta. Aku lari, meninggalkan gadis kecil itu karena tak ingin membuat Andesta kecewa. Tapi..., aku menyesalinya di kemudian hari. Saat Andesta tahu, dia marah dan meninggalkanku. Dia hanya tahu kesalahan itu tanpa menanyakan penyebabnya. Dan aku pun tak ingin menjadikan penyakitku alasan untuk mendapat pengampunan dari siapapun. Tapi semakin hari, serangan itu semakin sering terjadi. Karena itulah, aku ingin menebus semuanya, sebelum kematian menjemputku. Untuk Andesta, terima kasih telah memaafkanku. Aku percaya, pria pilihanmu akan membuatmu bahagia. Selamat tinggal."

     "Prang...!"

     Mika menabrak karyawan yang membawa pesanan saat ia berbalik menatap Ohny. Tangannya yang memegang ponsel bergetar hebat. Sesaat sebelumnya Rui menelpon memberikan kabar tentang pemuda yang dia bawa ke rumah sakit.

     Aku tidak tahu harus bahagia atau berduka. Pemuda itu mengalami gagal jantung dan kami tak bisa menyelamatkannya. Tapi..., dia tercatat sebagai donor kornea untuk Briohny. Adikku akan bisa melihat lagi, tapi..., dunianya akan berbeda jika dia tahu, penolongnya adalah sosok yang selalu ingin ia temui. Arroy Priamadi.

     Mika tergugu. Tak jauh darinya, Briohny pun tampak berkaca-kaca seolah merasakan duka yang sama. Karena keterbatasannya, ia tak pernah tahu, orang yang paling ingin ia temui, sekarat di dekatnya. Dan selamanya ia tak akan pernah bertemu dengannya, meski bagian dari Arroy akan menemani hari-harinya kelak.
.
.
END
.
UNKNOWN
from Orlandio Shone

she



SHE
.
KISUNG SPECIAL B’DAY
GS
.
.
“Remy itu…, sangat manja.”
ELEMENTARY SCHOOL.
.
Langkah Remy terhenti mendengar suara sahabat kecilnya. Rasanya sakit mendengar kalimat itu dari orang yang paling ia sayangi. Tapi gadis kecil itu memilih untuk pura-pura tak mendengar ucapan kejam itu.
“Bryan, ayo kita makan siang!” serunya kemudian dengan senyum cerianya. Yang dipanggil menoleh. Lalu tanpa banyak bicara keluar dari kelasnya dan mengikuti gadis kecil itu menuju taman belakang sekolah dasar mereka.
“Bryan itu sangat menakutkan!” ucap salah satu teman sekelasnya yang tadi bicara dengannya.
“Kasihan sekali Remy,” sambung yang lain.
“Justru Bryan yang kasihan. Harus berteman dengan anak manja seperti Remy!” sahut siswi kelas itu yang sebagian besar fans Bryan.
“Cih! Dasar anak perempuan hanya memandang wajah keren saja!”
“Apaaaa?!” dan pertengkaran pun terjadi karena dua pihak yang bertentangan itu.
Sementara dua sumber masalah pertengkaran itu justru asyik menikmati bekal makan siang buatan  ibu Remy.
“Ini, minumannya!” ucap Remy sambil mengulurkan botol minumnya.
Bryan menerima botol itu. “Terima kasih, Remy,” ucapnya lembut.
Remy tersenyum manis. Sementara Bryan langsung memalingkan wajahnya. Membuat gadis itu tertegun. Senyum di bibirnya perlahan luntur. Wajahnya menunduk menatap kedua tangannya yang mencengkram erat ujung roknya. Teringat ucapan Bryan di kelas tadi.
Yang terpikir di kepalanya adalah, apakah Bryan terpaksa berteman dengannya? Seperti teman-temannya yang lain? Seperti para orangtua yang mengasihaninya? Karena dia tidak memiliki seorang ayah?
“Aku sudah selesai, ayo kita kembali!” ucapan Bryan menyadarkan gadis itu dari lamunannya.
“Duluan saja, aku akan mencuci tempat bekalnya dulu,” ucapnya masih dengan senyuman yang sama.
Lagi-lagi Bryan memalingkan wajahnya. “Baiklah. Aku pergi dulu. Sampai nanti!” ucapnya seraya berdiri meninggalkan temannya.
Remy menlambaikan tangannya sampai punggung Bryan tak terlihat lagi. Wajahnya kembali muram setelah kepergian sahabatnya. Kepalanya kembali tertunduk dalam. Airmatanya telah menggenang di pelupuk mata sipitnya. Tapi gadis kecil itu mencoba untuk menahannya.
Tak apa.
Meski Bryan membencinya sekalipun, asal bocah lelaki itu masih tersenyum di depannya, Remy akan berpura-pura tak terjadi apapun.
Karena mereka adalah teman.
.
.
“Dia sangat membosankan. Aku hanya menggodanya saja, dia langsung menangis!”
“Yah! Remy memang gadis yang cengeng.”
JUNIOR HIGHSCHOOL
.
Gadis itu meremas bagian depan seragamnya dengan tangan bergetar. Tak jauh di belakangnya beberapa seniornya menyeringai mengejeknya.
“Kalian dengar itu? Kasihan Bryan, dia pasti merasa terbebani, karena harus menjadi babysitter untuknya.”
“Iya, jika dia tahu diri seharusnya dia menjauh dari Bryan agar dia bebas.”
Remy berbalik pergi. Air matanya sudah tak mampu lagi ia tahan. Ini bukan pertama kalinya Bryan bicara buruk tentangnya di belakang gadis itu. Apa berteman dengannya benar-benar membebani pemuda itu? Apa Bryan begitu membencinya? Apa yang harus dia lakukan? Haruskah dia kembali berpura-pura seakan tidak mendengar apapun? Haruskah ia diam? Atau sebaiknya ia mulai menjaga jarak dari sahabatnya?
Gadis itu mendongak menatap langit yang menghitam.
Mungkin pilihan terakhir akan jadi pilihan yang terbaik. Dan ia putuskan, dia akan mulai menjauh dari pemuda yang selalu menjadi penopangnya itu. Akan ia buktikan, bahwa ia akan baik-baik saja tanpa Bryan. Ia pasti bisa menjadi sosok yang kuat dan tegar.
“Hei, kenapa tak menungguku?”
Remy tersentak saat merasakan tepukan ringan di pundaknya. Sesaat ia menegang. Sebelum akhirnya ia menoleh pada pemuda yang menyapanya. Senyum tipis tampak di bibir manisnya.
“Hmm, sebentar lagi hujan,” ucapnya.
“Ayo!” ucap si pemuda seraya menggandengnya keluar dari gedung sekolah.
Gadis itu mengikutinya tanpa banyak bicara.
Biarlah. Untuk yang terakhir kalinya pemuda tanggung itu menggandeng tangannya, sepanjang perjalanan mereka pulang.
.
Hari berikutnya.
“Sudah berangkat?” ulang Bryan saat ibu Remy mengatakan padanya bahwa gadis itu meninggalkannya.
“Tante juga merasa heran. Remy meminta tante menyampaikan padamu, mulai hari ini dia akan ke sekolah bersama Yuri. Apa kalian bertengkar?”
Bryan tak menyahut. Hanya sedikit membungkuk hormat, lalu meninggalkan rumah Remy, di sebelah rumahnya.
Langkahnya sedikit lambat. Sibuk memikirkan apa yang kira-kira menjadi alasan Remy tiba-tiba berangkat ke sekolah tanpanya. Mungkin bukan hal aneh andai saja selama belasan tahun ini mereka tak pernah saling meninggalkan.
Dan ia tak pernah mendapatkan jawaban atas sikap Remy yang tiba-tiba berubah dan menghindarinya. Karena hari-hari selanjutnya gadis itu semakin menjauh dan tak terjangkau lagi olehnya.
.
.
“Hei, aku dengar dia tak punya ayah?”
“Hmm, karena itulah…”
SENIOR HIGHSCHOOL
.
“Brak!”
Kalimat Bryan terputus saat pintu kelasnya terbuka dengan kasar.
“Berhenti membicarakan keburukan orang lain, Bryan Trevor Kim!”
Pemuda delapan belas tahun itu tersentak mendengar suara yang ia kenal itu. Dengan cepat ia menoleh, dan mendapati mantan sahabatnya berdiri di depan pintu dengan tatapan tajam padanya.
“Remy?”
“Aku memang tidak punya ayah. Ayah meninggalkan kami saat tahu ibuku hamil dan memilih untuk menikah dengan wanita kaya. Apa itu salahku? Jadi jangan mengobral cerita itu seakan itu hanya cerita murahan!”
“Apa yang sedang kau bicarakan? Aku tidak…”
Remy menghindari tangan Bryan yang berusaha menyentuh pundaknya. “Jika kau memang tidak suka padaku dan membenciku, katakan langsung padaku. Jangan bicara hal-hal buruk itu di belakangku! Jika berteman denganku membuatmu lelah, bukankah aku sudah menjauh darimu? Lalu apa lagi yang kau mau?!”
Bryan tersentak mendengar ucapan gadis yang lahir tiga hari setelahnya itu.
“Mulai hari ini, anggap saja kita tak pernah saling mengenal. Aku…, aku membencimu, Bryan!”
Si pemuda masih terpaku di samping mejanya saat gadis manis itu pergi meninggalkan kelasnya.
“Hei, Bryan, kau tak mengejarnya? Dia bisa salah paham.”
Tak ada sahutan. Pemuda itu masih mencerna apa yang baru saja Remy teriakkan padanya. Sepertinya kejeniusannya yang begitu terkenal tak berpengaruh banyak untuk dengan cepat memahami apa yang terjadi.
“Ah, aku ingat…., saat kita SMP, sepertinya Remy juga mendengar obrolan kita.”
Bryan berbalik menatap salah satu teman sekelasnya.
“Apa maksudmu, Andrew?”
“Waktu aku menggodanya sampai menangis. Dan kita mengatainya cengeng. Ah, tidak, tapi kaulah yang mengatainya cengeng. Aku pikir, aku melihatnya di depan kelas kita. Aku tidak tahu apa dia mendengar pembicaraan kita atau tidak. Tapi…, hei…!”
Tanpa mendengar ucapan temannya lebih jauh lagi, Bryan berlari keluar dari kelasnya.
Ia baru mengerti. Alasan Remy menjauhinya, adalah karena kesalahpahaman yang tak pernah terklarifikasi. Gadis itu selalu berpikiran pesimis dan menyimpan semua masalahnya sendiri. Sedangkan dia adalah pemuda yang dingin dan tidak peka. Karena itulah mereka bahkan tak menyadari bahwa keduanya hanya terjebak dalam pemikiran-pemikiran yang tak perlu.
Bryan mengedarkan pandangannya ke segala arah, mencari sosok Remy di kelasnya. Mengabaikan para siswi kelas itu yang berlomba mencari perhatian Pangeran sekolah mereka.
“Hei, hei…, lihat itu! Waaah…, akhirnya Aiden berani juga mengungkapkannya,” ucap seorang siswa sambil menunjuk ke luar jendela kelasnya.
“Mana, mana?”
Dengan penasaran hampir semua penghuni kelas beranjak mendekali jendela untuk melihat teman sekelas mereka mengutarakan perasaannya pada seseorang.
“Dia sangat beruntung Aiden memilihnya.”
“Atau justru kasihan, karena mungkin jika orangtua Aiden tahu, mereka akan memisahkan keduanya.”
“Kenapa? Remy gadis yang baik dan cerdas.”
Langkah Bryan keluar dari kelas terhenti mendengar nama itu di sebut.
“Meski bukan keluarga kaya, tapi keluarga Aiden berdarah biru, mereka tak akan menerima anak haram menjadi bagian dari keluarga itu.”
Tap!
Pemuda berkulit putih itu langsung berlari keluar dari kelas Remy, menuju taman kecil di belakang kelas itu. Tempat dimana Remy tengah mendapat sebuah pengakuan cinta dari teman sekelasnya.
..
“A-aiden?”
Remy yang semula duduk sedirian di salah satu bangku taman, menangis karena Bryan, spontan berdiri saat seseorang mengulurkan sebuah bantal berbentuk hati padanya.
“Apa yang…”
“Remy, aku menyukaimu. Sejak pertama kita terdaftar di sekolah ini. Dan sekarang, aku memberanikan diri untuk mengatakannya padamu.”
Pemuda itu memberi jeda pada kalimatnya, lalu berjongkok di depan gadis berpipi chubby itu.
“Jadilah pacarku,” ucapnya to the point, dengan pipi merona. Ini ungkapan cinta pertamanya. Terus terang ia gugup dan malu melakukannya.
Sementara si gadis masih terpaku menatapnya. Antara bingung dan juga terkejut mendapatkan pengakuan cinta yang juga pertama untuknya.
“Aku…”
“Maaf, jika mengecewakanmu, tapi dia pacarku.”
Keduanya tersentak. Terlebih Remy. Saat sepasang tangan melingkar di atas bahunya. Dan suara yang sangat ia kenal itu mengatakan hal yang sangat tak masuk akal.
“Bryan?” ucap Aiden tak percaya.
“Sekarang boleh aku membawanya? Permisi.”
Tanpa menunggu jawaban dari pemuda yang satunya, Bryan menggandeng Remy meninggalkan tempat itu. Terus menariknya menuju tempat yang cocok untuk mereka bicara, menyelesaikan permasalahan mereka yang tertunda. Hanya mereka berdua.
Remy menarik tangannya dengan kasar saat Bryan menghentikan langkahnya di gedung olahraga.
“Apa maksudmu mengatakan hal tak masuk akal itu pada Aiden?”
Bryan menoleh, menatap gadis yang sedang menatapnya tajam namun penuh luka itu.
“Aku mengatakan yang sebenarnya, Remy. Apa kau lupa aku pernah berjanji pada orangtuaku untuk menjagamu selamanya?” ucap Bryan lembut.
Remy memalingkan wajahnya menghindari tatapan pemuda itu.
“Kau terpaksa melakukannya,” ucapnya.
“Apa yang membuatmu berpikir seperti itu, hmm?”
“Kau! Kau selalu membicarakan keburukannku di depan teman-temanmu! Kau…”
Bryan menghela nafas. “Itu memang benar.”
“Kan?!”
“Tapi kau hanya mendengar sebagian saja, Remy!” ucap Bryan gemas.
“A-apa maksudmu? Jangan bercanda! Kau mengatakan pada mereka bahwa aku manja. Aku…”
“Ya, Remy itu anak yang manja. Dan aku akan selalu ada untuk memanjakannya. Selamanya,” sahut Bryan sambil membelai rambut Remi.
Mata sipit itu terbelalak. “K-kau juga bilang aku cengeng.”
“Benar. Kau cengeng karena itu kau akan selalu membutuhkan bahuku untuk bersandar.”
Remy menutupi mulutnya yang terbuka karena terkejut dan tak percaya.
“Dan soal kau tak memiliki ayah, aku akan mengganti semua yang tak kau dapatkan darinya. Aku percaya, hanya aku yang bisa melakukannya.”
Gadis itu menggeleng pelan. Telapak tangannya masih menutupi mulutnya, sementara air matanya perlahan mendesak keluar.
“A-apa semua itu benar?”
Bryan tertawa kecil seraya menyentil kening Remy. “Gadis bodoh. Kau membuat tahun-tahun terakhir kita sia-sia karena kebodohan itu. Seharusnya kau bertanya padaku. Bagaimana kau bisa tidak mempercayai orang yang mengenalmu sejak lahir?”
Remy mengelus bekas sentilan Bryan di keningnya. Menatap pemuda yang masih asyik menertawainya itu. Benarkah apa yang ia katakan? Jadi semua hanya salah paham? Bertahun-tahun kekecewaannya itu hanya kebodohan tak mendasar?
“Kau masih tak percaya? Kau mau aku mencari teman-teman SD dan SMP kita yang saat itu bicara denganku? Ah, Andrew, kau bisa bertanya pada…”
Kalimat Bryan terputus, saat tiba-tiba Remi melompat memeluknya.
“Aku pikir kau membenciku. Aku pikir kau tidak suka menjadi temanku. Maaf…, maaf…,” ucap Remy di sela tangisan harunya.
Bryan tersenyum lega. “Bodoh!” ejeknya yang dibalas pukulan ringan di punggungnya.
“Terimakasih, Bryan. Kau sahabat terbaikku. Kau saudaraku yang terhebat.”
Senyum di bibir pemuda itu menghilang. “Aku tidak mau lagi menjadi sahabatmu, Remy. Apalagi saudara.”
Rangkulan Remy mengendur dan terlepas mendengar ucapan Bryan yang terkesan sangat dingin.
“Bryan?” ucap Remy gugup. Tiba-tiba ketakutan itu kembali. Ia takut semua kata-kata dari pemuda di hadapannya tadi hanya kebohongan saja.
“Bukankah sudah aku katakan dengan jelas? Kau adalah kekasihku? Pacarku.”
Mata Remy membulat. “A-apa? Se-sejak kapan aku…”
“Sejak kita tumbuh bersama, kau ditakdirkan untukku, Remy. Apa kau tahu, bahkan orangtua kita telah merancang masa depan kita?”
“A-apa?”
“Tapi aku akan menunggu, sampai perasaanmu padaku berkembang dengan sendirinya. Sampai saat itu, meski terpaksa aku akan menerima jika kau memperlakukanku sebagai sahabat ataupun saudaramu. Tapi aku tidak akan membiarkan kau berpaling pada orang lain.”
Mata Remy mengerjab. Meski sama sekali tidak romantis, tapi kata-kata pemuda itu bagaikan mantera sihir yang membuatnya tak bisa membantah. Hanya bisa mengangguk pelan menyetujui permintaannya. Lalu tak menolak saat tangan pemuda itu menggandengnya pergi. Kembali ke kelas mereka masing-masing.
.
END
.
.
.
.
OMAKE
.
.
Mata bulat itu terus menatap sosok semungil dirinya, yang berpindah dari gendongan seorang wanita asing ke tangan ibunya. Seorang bayi berumur setahun, sama sepertinya. Bayi perempuan yang bermata sipit dan berpipi chubby.
Mata bulat bocah lelaki yang sedang bermain dengan ayahnya itu terus memandanginya.
“Apa yang kau lihat, sayang? Kau menyukainya? Namanya Remy. Dia cantik kan? Dia putri teman ayah dan ibu. Kau mau berkenalan dengannya?” Tanya sang ayah.
Perlahan tangan mungil itu bergerak, menjadikan bahu sang ayah sebagai tumpuan untuk berdiri.
“Ibu…, lihat!” pekik sang ayah girang.
“Bryan…!” sahut sang ibu tak kalah bahagia.
Dan langkah pertama bocah mungil itu, adalah menuju takdirnya.
“My.., emy…,” begitupun kata pertama dan ciuman pertamanya yang mendarat di pipi tembem bayi perempuan yang hanya menatapnya tanpa kata.
.
000
.
Untuk August couple yang berulang tahun. Sengaja publish di tanggal pertengahan ultah mereka. HAPPY B’DAY……!!!!!!!
Blue Spinning Frozen Snowflake
Sapphire
Sapphire Sapphire Blue Spinning Frozen Snowflake