Aku, bukanlah Matahari,
yang menguasai langit di siang hari.
Aku, bukanlah Rembulan,
yang selalu tersenyum melanjutkan tahta sang Surya jika malam menjelang.
Aku bukanlah Bintang,
yang selalu bertaburan menemani sang Bulan.
Tapi aku,
hanyalah kristal kecil tak bermakna, yang selalu terinjak dan penuh noda.
Aku hanyalah titik-ttik kecil tak berguna yang bahkan tak tahu alasan keberadaanku di dunia.
Tapi setidaknya,
aku tak pernah seperti Matahari yang selalu dikudeta Rembulan saat senja datang.
Aku tak seperti Rembulan,
yang selalu iri pada kilau sang Bintang.
Karena meski kecil dan kadang tak terlihat,
aku bisa bersinar sepanjang hari.
Tak peduli pagi, siang, sore ataupun malam hari.
Kilau kecilku di atas hamparan pasir, akan tetap tak tersaingi.
yang menguasai langit di siang hari.
Aku, bukanlah Rembulan,
yang selalu tersenyum melanjutkan tahta sang Surya jika malam menjelang.
Aku bukanlah Bintang,
yang selalu bertaburan menemani sang Bulan.
Tapi aku,
hanyalah kristal kecil tak bermakna, yang selalu terinjak dan penuh noda.
Aku hanyalah titik-ttik kecil tak berguna yang bahkan tak tahu alasan keberadaanku di dunia.
Tapi setidaknya,
aku tak pernah seperti Matahari yang selalu dikudeta Rembulan saat senja datang.
Aku tak seperti Rembulan,
yang selalu iri pada kilau sang Bintang.
Karena meski kecil dan kadang tak terlihat,
aku bisa bersinar sepanjang hari.
Tak peduli pagi, siang, sore ataupun malam hari.
Kilau kecilku di atas hamparan pasir, akan tetap tak tersaingi.
