Blue Spinning Frozen Snowflake
Sapphire Blue Spinning Frozen Snowflake
Sapphire
Blue Spinning Frozen Snowflake
Sapphire
Blue Spinning Frozen Snowflake
Sapphire
Blue Spinning Frozen Snowflake

Sabtu, 31 Januari 2015

zetta's memories

ZETTA'S MEMORIES (Side Story from novel Terlanjur Cinta) . . .

 “Hyaaaa....! Kamu ngerjain aku ya, Nin?! Pohon ini sarang ulat bulu!” teriak Zetta sambil melompat turun dari pohon Kersen di atas bukit kecil di belakang rumah nenek Ninda. Sementara gadis manis itu justru tertawa mendengarnya.

“Memang siapa yang nyuruh kamu manjat, Zetta?!”

 “Lha, tadi kamu bilang pengen buah kersen?” ucap Zetta sambil ‘asyik’ menggaruk-garuk leher dan lengannya.

Ninda kembali tertawa. “Aku memang pengen. Tapi di samping rumah nenek kan ada,” ucapnya sambil memamerkan beberapa buah kersen yang ia kantongi.

 “Astaga...! Kamu ini memang adiknya Nando, ya?!” omel Zetta.

 Ninda tak menyahut. Sedang asyik menggigit lembut buah kersennya, menghisap habis isinya lalu meniupnya hingga kembali bulat dan melemparkannya pada Zetta.

 “Isshh! Jorok, ih! Cantik-cantik kok jorok, sih?!” omelnya persis emak-emak lagi antri sayur.

 Tak ada jawaban. Gadis itu justru mengalihkan pandangannya ke arah lain. Entah menikmati pemandangan indah di bukit kecil itu, atau karena sebab lain. Tatapan jengkel Zetta menghilang perlahan. Tergantikan oleh pandangan penasaran pada adik dari sahabatnya itu. Sudah beberapa hari ini dia merasa Ninda tak seceria Ninda yang ia kenal. Apa sedang ada masalah dengan Dimas, pacarnya?

 “Kamu baik-baik saja?” tanyanya sembari mengambil tempat di samping gadis itu.

 Ninda menggeser duduknya membelakangi Zetta. Lalu menyandarkan punggungnya pada punggung Zetta. Menerawang menatap langit cerah di angkasa. Sedikit mendesah berat, merasakan beban di hatinya. Tanpa menyadari detak jantung pemuda di belakangnya yang secepat laju kereta.

 “Kamu tahu, aku ini nggak mudah akrab sama cowok. Tapi aku suka berteman denganmu. Meskipun sering bertingkah konyol dan menyebalkan, tapi Zetta adalah cowok satu-satunya yang aku percaya, selain Dimas dan Kak Nando,” ucap Ninda.

 Mata Zetta sedikit melebar mendengarnya. Ucapan Ninda itu, entah mengapa seolah mengunci perasaan Zetta. Rasanya menyukai Ninda lebih dari seorang teman, adalah dosa untuknya. Ninda mempercayainya sebagai teman. Hanya sebatas itu saja.

 Zetta berdehem, lalu menoleh pada gadis di belakangnya. “Maksudmu, meski cowok sekeren aku menyukaimu, kamu nggak tertarik, gitu?” ucapnya mencoba bercanda.

 Ninda mendorong kepala Zetta menjauh. “Keren dari mana? Figar sama Shone jauh lebih keren darimu. Bahkan kamu kalah jauuuuuuh, dari kak Nando.”

 “A-apa? Kamu jahat banget sih, Nin?!” sungut Zetta. Ninda tergelak.

 “Ibarat K-Pop idol itu ya, Kak Nando itu Yunho TVXQ, tampan dan berkarisma. Figar itu Minho Shinee yang super keren, dan Shone adalah Kim Kibum Suju si jenius dan cool. Sementara Zetta...”

 “Lee Junki?”

 “Hmmphhh...! Lee Junki? Lee Kwangsoo baru bener!” tawa Ninda meledak.

 “Ck! Kalau aku Lee Kwangsoo, lalu Dimas?” Tawa Ninda terhenti begitu mendengar nama itu. ekspresi wajahnya mulai berubah. “Kenapa? Jangan bilang dia seperti Lee Minho, Noh Min Woo, Won Bin...”

“Dia...,Edison Chen,” sahut Ninda.

 Bibir Zetta bergerak tanpa suara, menyebut nama artis yang Ninda katakan. Kalau tidak salah ingat itu nama pemain film balapan Initial D. Tapi Zetta lupa wajahnya. Lagi pula kenapa Ninda menyebutkan nama itu? Apa dia lebih keren dari idola K-POP kesukaan Ninda? G.O MBLAQ mungkin?

 “Apa kau tahu Zetta,” ucap Ninda membuyarkan lamunan Zetta.

 “Hn?” pemuda itu menoleh.

 “Pohon kersen itu, sebentar lagi daunnya akan habis termakan ulat. Tapi tidak lama setelahnya, pengorbanan pohon itu akan terbayar. Karena setelahnya akan hidup ratusan bahkan mungkin ribuan kupu-kupu di bukit ini.”

 “Benarkah?”

 “Hm...,” Ninda mengangguk. “Aku berharap apa yang aku korbankan, akan berbuah manis juga,” ucapnya sambil menerawang.

 Alis Zetta bertaut tak mengerti ucapan Ninda. Bibir gadis itu tersenyum. Tapi entah mengapa di matanya terlihat banyak kesedihan.

 “Woiii! ZETTAN! Ninda sedang nggak enak badan! Kenapa malah membawanya ke sini?!”

Zetta dan Ninda menoleh bareng.

 “Pulang!” perintah pemuda itu seraya kembali menuruni bukit tanpa menunggu dua makhluk itu.

 Zetta menunjuk Nando sambil menatap gadis di dekatnya. “Yunho yang berkarisma? Cih!”

 Ninda tertawa seraya berdiri. "Kau tahu..., kurasa kau seperti Lee Hongki dalam karakter Jeremy A.N.Jell. Konyol tapi sangat menyenangkan," ucapnya sebelum berlari kecil mengejar kakaknya.

 Zetta termangu mendengarnya. “Hei...! Kenapa aku ditinggal?!” teriaknya kemudian sembari mengejar kedua bersaudara itu.

 “Kak Nando, liburan minggu depan aku mau menginap di rumah teman, boleh ya?”

 “Kemana?!” tanya Nando dan Zetta bareng.

 “Ke tempat yang nggak ada lapangan basketnya,” jawab Ninda asal, lalu berlalu mendahului kedua pemuda yang bersamanya.

 Nando dan Zetta saling pandang. Akhir-akhir ini Ninda memang selalu uring-uringan jika mendengar kata ‘basket’.

 “Ohya, Ndo, siapa Edison Chen itu?” tanya Zetta masih penasaran dengan sosok Dimas dalam gambaran Ninda.

 “Maksudmu Ari*l N**h versi Taiwan? Mau liat Video mesumnya, ya?!” tuduh Nando.

 “Eh...?” Zetta melongo, seraya menoleh pada Ninda yang telah jauh. Kenapa Ninda memilih artis seperti itu untuk menggambarkan pacarnya sendiri?

 .

 Beberapa tahun kemudian..

 Zetta mengatur nafasnya yang turun naik. Lalu mengedarkan pandangannya ke segala penjuru arah. Mencoba merangkai kenangan di bukit kecil di belakang rumah nenek Nando.
 
0“Pohon kersen itu, sebentar lagi daunnya akan habis termakan ulat. Tapi tidak lama setelahnya, pengorbanan pohon itu akan terbayar. Karena setelahnya akan hidup ratusan bahkan mungkin ribuan kupu-kupu di bukit ini.”

 Kata-kata Ninda saat itu masih jelas dalam ingatannya. Juga harapannya untuk mendapatkan kebahagiaan setelah pengorbanan yang ia lakukan. Semua masih tersimpan rapi dalam ingatannya. Sayangnya Ninda tak mendapatkan semua yang ia inginkan. 

“Kamu pikir mudah, mengatakan kenyataan kalau adikku mati bunuh diri setelah membunuh janinnya sendiri? Bahkan kepada orangtuaku pun aku tak sanggup mengatakannya!”

Mata Zetta terpejam mengingat ucapan Nando setelah menghajar Dimas beberapa hari yang lalu, saat mendapati mantan pacar adiknya yang sedang bersama pacar(lain)nya yang sedang hamil muda. Pemuda itu, pemuda yang Ninda percayai, yang dia cintai, seseorang yang Zetta pikir bisa membuat Ninda bahagia, ternyata lebih mengecewakan dari Figar yang playboy kelas atas. Setidaknya Figar masih menganut paham pacaran sehat.

Tapi Dimas? Dia benar-benar penuh scandal seperti Edison Chen. Seandainya Zetta tahu, dia tak akan membiarkan Ninda jatuh cinta pada pemuda itu. Seandainya saat itu Zetta tidak menahan perasaannya, mungkin Ninda masih bersamanya. Seandainya...

 “Zetta! Kok aku ditinggal, sih?!”

 Zetta tersentak mendengar panggilan itu. Dengan cepat ia menghapus airmatanya. Sedikit berdehem dan men-setting wajahnya sewajar mungkin sebelum menoleh.

 “Selamat datang di Bukit Kupu-Kupu,” ucapnya sambil merentangkan tangannya dengan senyum ceria.

“Jadi ini inspirasi novel kak Shone?” gumam gadis itu sambil mengedarkan pandangannya ke segala arah. Menatap kupu-kupu yang berterbangan di sekitarnya.

“Shone itu mencurinya dariku, tahu!” “Cih! Sok banget, sih?” cibir gadis itu. Zetta nyengir kuda mendengarnya.

“Waaah, ada pohon kersennya juga!” seru si gadis lagi, seraya berlari dan memanjat pohon itu. Dan lagi-lagi Zetta tersenyum melihatnya.

Ishky. Gadis manis yang bersamanya, copy paste dari sosok Ninda dalam kenangannya. Meski tak ada kemiripan dalam wajahnya. Tapi sikap dan sifatnya nyaris sama. Zetta hampir berpikir telah jatuh cinta pada sosoknya yang menyerupai cinta terpendamnya itu. Tapi...

 “Wooiii! ZETTAN! Kenapa seenaknya menculik pacar orang lain?!”

 Dengan berdecak kesal Zetta menoleh.

“Nando! Kenapa kamu selalu merusak moment spesialku, haaah!” teriaknya kesal.

Sementara yang diteriaki hanya menatapnya tak mengerti. Sambil menggerutu, Zetta berbalik, meninggalkan bukit itu.

 Setidaknya ia masih bisa berbagi kenangan Ninda bersama Nando dan yang lainnya.

Untuk saat ini, itu cukup baginya. .

 End .
Blue Spinning Frozen Snowflake
Sapphire
Sapphire Sapphire Blue Spinning Frozen Snowflake